Title Three

This is Photoshop's version of Lorem Ipsum. Proin gravida nibh vel velit auctor aliquet. Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate cursus a sit amet mauris. Morbi accumsan ipsum velit.

Duis sed odio sit amet nibh vulputate cursus a sit amet mauris. Morbi accumsan ipsum velit.

Call To Action Buttons OH MY!

Title Four

This is Photoshop's version of Lorem Ipsum. Proin gravida nibh vel velit auctor aliquet. Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate cursus a sit amet mauris. Morbi accumsan ipsum velit.

Duis sed odio sit amet nibh vulputate cursus a sit amet mauris. Morbi accumsan ipsum velit.

Holy SHIT! It's so COOL!

Title One

This is Photoshop's version of Lorem Ipsum. Proin gravida nibh vel velit auctor aliquet. Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate cursus a sit amet mauris. Morbi accumsan ipsum velit.

Duis sed odio sit amet nibh vulputate cursus a sit amet mauris. Morbi accumsan ipsum velit.

Isn't this AWESOME? Yes it is!

Title Two

This is Photoshop's version of Lorem Ipsum. Proin gravida nibh vel velit auctor aliquet. Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate cursus a sit amet mauris. Morbi accumsan ipsum velit.

Duis sed odio sit amet nibh vulputate cursus a sit amet mauris. Morbi accumsan ipsum velit.

Well, then grab it NOW! Okay!

Thursday, February 18, 2010

Try Out SMP se-Banguntapan





inilah program kerja terbesar dari bidang PIPSI PC IPM BU

mengadakan try out smp se-Banguntapan dan sekitarya

Try out ini diikuti lebih dari 300 peserta, terdiri dari murid SMP N 1 Banguntapan, SMP N 2 Banguntapan, SMP N 3 Banguntapan, SMP N 4 Banguntapan, SMP N 5 Banguntapan, SMP Muhammadiyah Banguntapan, SMP MUh 7 Yogyakarta, SMP N 9 yogyakarta, SMP N 5 Yogyakarata, SMP N 1 Piyungan dan SMP N 2 PIyungan

Monday, January 25, 2010

TPM

Pentas seni dari remaja masjid, pengajian anak-anak, dan dongeng dari Silaturahmi pecinta Anak














Tuesday, September 29, 2009

Tuesday, August 18, 2009

Jadwal Penceramah Ramadhan

silakan Klik disini untuk download jadwal penceramah dan kultum Ramadhan AMM BU

Tuesday, August 4, 2009

Menuju keluarga Sakinah

ar-Rum 21

“dan dari tanda kekuasaan-Nya, Allah telah menjadikan kamu sekalian istri-istri untuk kamu sekalian, agar kamu sekalian dapat merasakan ketenangan, hidup tentram dengan mereka, dan dan menjadikan antara kamu sekalian ikatan cinta dan kasih sayang. Sungguh yang demikian itu menjadi tanda bagi kaum yang mau berpikir”




syarat keluarga sakinah
1. Niat karena ibadah, menyempurnakan separuh dari agama
Bukan karena syahwat atau nafsu

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”(Q.S Ali-Imron:14)



Pernikahan dalam al-qur’an disebut “miistaqan gholiidho”, ikatan yang amat kuat, jadi jangan bermain-main dengan pernikahan.

2. Cari pasangan hidup yang mau diajak prihatin, hidup sederhana
Rosulullah adalah seorang yang kaya, beliau berkorban seratus unta pada idul adha, namun beliau sendiri hidup amat sederhana, sehingga beliau menggunakan batu untuk mengganjal perutnya yang kosong, kata beliau, “aku tidak ingin mengurangi jatah kebahagiaanku di surga dengan kebahagiaanku di dunia yang sementara”. Istri-istri beliau dapat menerima beliau apa adanya, jika istri-istri beliau terlalu banyak menuntut, maka Rosul pun tidak akan dapat banyak beramal.

“Wanita dinikahi karena 4 hal, karena kekayaannya, dan karena nasabnya dan karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, dengan demikian maka beruntunglah engkau”.(HR. Bukhori-Muslim)



“ dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah”

Perbuatan dosa yang terjadi pertama kali pada manusia adalah karena wanita. Sewaktu Nabi Adam digoda syeitan untuk memakan buah khuldi, Nabi tidak tergoda. Namun ketika siti Hawa menggoda nabi Adam untuk memakan buah khuldi Nabi Adam tergoda, sehingga Allah menurunkan mereka ke bumi dari surga karena dosa mereka. begitu juga dengan alasan Nabi Yusuf dipenjara, walaupun Nabi Yusuf tidak bersalah namun yang menyebabkan fitnah itu terjadi adalah wanita, yaitu Zulaikha yang cantik jelita.

Ciri wanita sholehah
“ sebaik-baik istri adalah yang dapat menyenangkan hatimu bila kamu melihatnya, taat kepadamu bila kamu suruh, serta dapat menjaga kehormatan dirinya dan harta bendamu dikala kamu sedang tidak ada di rumah”(HR. Tabrani)

1. Bila dilihat menyenangkan
2. Bila disuruh taat
3. Suka mempercantiik diri kepada suami
4. Bisa menjaga diri ketika ditinggal suami


Makna Ber-Muhammadiyah

Pertama, Bermuhammadiyah adalah Berislam

Makna bermuhammadiyah yang pertama dan paling utama serta sangat mendasar adalah berislam. Bagaimana maknanya berislam itu? Mengungkap hal ini, saya akan membuka lembaran sejarah yang sudah amat jarang diketahui oleh para pimpinan Muhammadiyah. Alhamdulillah, saya beruntung, mendapat rahmat ketika saya bisa nginthil, mengikuti guru saya, seorang ulama besar di Jogjakarta, Bapak K.H.R. Hadjid. Beliau dijuluki sebagai Asyaddul Muhammadiyah, Jago Tua Muhammadiyah, sekretaris Badan Penasehat PP Muhammadiyah. Gara-gara saya ditendang dari IAIN, saya justru sempat berguru kepada beliau selama tidak kurang dari 10 tahun.

Saya sempat mendengar kisah yang dialami beliau. Beliau termasuk murid termuda K.H. Ahmad Dahlan. Nampaknya, beliau satu-satunya murid yang mencatat pelajaran Kyai Haji Ahmad Dahlan. Kami sempat beberapa kali menerbitkan Buku Pelajaran Kyai Ahmad Dahlan itu dalam bentuk stensilan. Terakhir, diterbitkan oleh Depag Jawa Tengah, dibagi secara gratis untuk PDM-PDM se Jateng. Buku itu adalah Himpunan Ayat-ayat Alquran yang Difahami oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan.
Buku itu berisi tentang bagaimana cara memahami, bagaimana cara mengajarkan, dan bagaimana pula cara mengamalkannya. Semua itu terungkap dalam Buku Pelajarannya Kyai Haji Ahmad Dahlan yang ditulis oleh KHR Hadjid. Generasi sekarang ini barangkali tidak banyak mengenalnya. Yang dikenal mungkin malah putra tertuanya yang juga terkenal, Bapak R.H. Haiban Hadjid.




Dua pertanyaan Kyai Ahmad Dahlan; Muhammadiyah Urung Menjadi Partai Politik

Tahun 1921, ada Sidang Hoofdbestuur Muhammadiyah (PP Muhammadiyah). Di situ para assabiqunal awwalun Muhammadiyah berkumpul, para pendiri dan generasi pertama pimpinan dan aktivis Muhammadiyah. Yang menarik, dalam pertemuan itu ada tokoh yang tidak pernah kita kenal sebagai orang atau aktivis Muhammadiyah. Yang menarik adalah beliau bisa tampil meyakinkan dalam forum para pembesar, pimpinan Muhammadiyah generasi pertama berkumpul. Orang itu adalah Haji Agus Salim.

Haji Agus Salim punya gagasan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kalau pada masa Orde Baru Muhammadiyah disebut orsospol, dan beberapa pimpinan Muhammadiyah menjadi anggota Dewan. Ternyata, menjelang akhir hayat Kyai Haji Ahmad Dahlan, sudah muncul juga “ambisi” menjadikan Muhammadiyah sebagai parpol. Sidang dipimpin oleh Kyai Ahmad Dahlan. Diketahui, Haji Agus Salim adalah seorang jurnalis, politisi dan diplomat yang hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam berdebat. Dalam sidang Hoofdbestuur, argumentasi yang disampaikan Haji Agus Salim membuat seluruh yang hadir terpukau, terkesima dan setuju untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kyai Dahlan, karena menjadi pimpinan sidang, tidak berpendapat. Setelah Kyai Dahlan melihat bahwa nampaknya yang hadir sepakat dengan gagasan Haji Agus Salim, Kyai Haji Ahmad Dahlan yang memimpin sidang dengan duduk, lalu berdiri sambil memukul meja. Saya tidak sempat bertanya kepada guru saya, Kyai Hadjid, apakah Kyai Dahlan memukul mejanya keras apa tidak.

Kyai Ahmad Dahlan mengajukan dua pertanyaan yang sangat sederhana dan sangat mudah. Dan kalau dijawab, sebenarnya juga gampang. Pertama, apa saudara-saudara tahu betul apa agama Islam itu? Kedua, apa saudara berani beragama Islam?
Tidak ada satu pun dari yang hadir yang sanggup menjawab pertanyaan itu, termasuk Haji Agus Salim sendiri. Bukannya tidak bisa, sebab mana mungkin ditanya soal Islam begitu saja tidak tahu. Tapi, ketika ditanya “Beranikah kamu beragama Islam?”. Mereka tahu persis yang ditanyakan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Pak Hadjid muda, bercerita kepada saya, “Bukan main tulusnya pertanyaan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu”. Sebenarnya pertanyaan itu sederhana, tapi tidak ada yang sanggup menjawab. Akhirnya gagasan Haji Agus Salim tidak kesampaian. Muhammadiyah urung jadi partai politik.

Dua pertanyaan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu, sekarang baru terjawab satu. Yaitu pada waktu Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978. Jawaban itu berupa keputusan tentang Ideologi Islam, Pokok-Pokok Pikiran tentang Dienul Islam, yang konsepnya dari Bapak H. Djindar Tamimy. Jadi, setelah kira-kira 56 tahun baru terjawab satu pertanyaan. Sedangkan pertanyaan yang kedua, sampai sekarang ini belum ada yang berani menjawab. Tahun 1960, kebetulan saya masih sering mendengar, ada ungkapan Kyai Dahlan yang menarik, “Durung Islam temenan, nek durung wani mbeset kuliti dewe” (Belum Islam sungguh-sungguh, kalau belum berani mengelupas kulitnya sendiri).

Yang akan saya ungkap di sini, kaitannya dengan pertanyaan Kyai Haji Ahmad Dahlan tadi, apa Islam itu, bisa dibuka pada Pelajaran Kyai Haji Ahmad Dahlan. Bagi KHR Hadjid, Kyai Dahlan dalam mengungkap ayat itu menarik sekali. Ayat yang diungkap adalah ayat yang sudah populer. Bahkan menjadi bacaan harian mereka yang membaca doa iftitah shalat menggunakan hadis riwayat Imam Muslim (Wajjahtu wajhiya….).Buku itu mengungkap dan mengajarkan bagaimana Islam itu. Ternyata, setelah sekian tahun bermuhammadiyah Kyai Dahlan baru sanggup mengaplikasikan dan merealisir ajaran Alquran tidak lebih dari 50 ayat. Dua ayat diantaranya ada dalam surat Al An’am. Qul inna shalati wa-nusuqi wa mahyaaya, wa mamaati lillaahi rabbil alamin. Laa syarikalah wa bidzalika umirtu.

Lalu ayat tadi bermakna apa? “Shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah pengatur alam semesta”. Laa syarikalah, tidak ada sekutu selain Allah. “Aku diperintah untuk hidup dengan model cara yang seperti itu. Tidak untuk maksud-maksud yang lain. Tidak untuk anak istriku. Tidak untuk orang tuaku, juga tidak untuk bangsa dan tanah airku”. Tanah dan air itu kalau jadi satu namanya blethokan. Hidupku tidak untuk itu. Pertanyaannya, lalu untuk apa? “Bela hakmu, perjuangkan hakmu. Membela tanah air adalah sabilillah. Membela tanah air bukan karena kemauan tanah air, tetapi karena Allah”. Di sini lalu maknanya, “berbuat baiklah kamu kepada orang tuamu”. Bedanya dengan ihsan, tidak sekedar karena naluri, atau karena punya naluri berbakti kepada orang tua, tetapi begitu lengkap. Sebab itu karena perintah Allah, dari kata
“wa-ahsinuu, …..birrul walidaini”. Jadi jelas sekarang ini. Lalu ditutup dengan “wa ana awwalul muslimin.
O, ini to karepe (maksudnya) Islam itu. Islam, maksudnya, mendidik kita untuk hidup model seperti itu. Tidak pakai tiru-tiru model yang lain.
Dalam setiap langkah selalu berusaha dan berkarya, tidak bisa yang namanya hidup kecuali semuanya dalam bentuk kepasrahan, niat yang tulus berbakti kepada Allah, apapun yang dilakukan. Sebagaimana ayat yang populer, wamaa khalaqtul jinna wal-insaan illa liya’buduun.
Manusia ini hidup diciptakan oleh Allah, tidak lain, (satu kalimat yang dimulai dengan nafi, yang di belakang ada illa itu, merupakan satu doktrin kepastian) hidup ini hanya untuk beribadah, tidak lain.
Maka, semua aktivitas hidup kita harus punya nilai dan nafas ibadah. Di situlah makna hakekat dari Islam.

Dari ayat ini, beliau yang memang orang alim dan orang-orang generasi pertama, bisa menangkap pertanyaan ini, walaupun tidak sanggup menjawab.Maaf, jika orang sudah bicara politik, hampir bisa dipastikan yang dicari hanyalah kursi. Dulu, ketika sama-sama jadi mubaligh, sama-sama
aktif, masih bisa. Tapi, ketika sudah sampai pada soal kampanye,jangan tanya. Disitulah letak bahayanya politik kalau tidak disinari oleh Islam. Sehingga, rasa-rasanya, kita ini sepertinya tidak punya panutan, siapa politikus kita yang bisa membawa amanah Islam. Rasanya jauh sekali dengan para pendahulu kita. Seperti Pak Muhammad Natsir, yang kalau mau sidang ke DPR hanya naik becak, tidak mau dijemput mobil.

Bermuhammadiyah adalah berislam. Ungkapan ini memang cukup tandas. Masyarakat/umat Islam ketika itu di dalam berislam sudah bukan main trampilnya. Seperti diungkap dalam sabda Nabi yang bernilai ramalan itu, “Akan datang kepada kamu sekalian, suatu jaman dimana Alquran
tidak kekal lagi, Islam tidak tegak lagi kecuali hanya nama. Memang banyak orang mengaku dirinya muslim, tapi perilaku dan tindakannya jauh sekali dari Islam. Masjid-masjidnya makmur, banyak jamaah, tapi sepi dari kebaikan. Orang-orang yang paling dalam ilmu agamanya menjadi orang yang paling jahat di kolong langit. Dari mereka keluar fitnah”. Tetapi fitnah itu kembali kepada orang-orang tadi. Jika hal ini disebut oleh Rasulullah, ini yang jelas terjadinya sepeninggal
Rasululah.

Rupanya, hampir 100 tahun yang lalu, fenomena ini terjadi, yakni di jaman sekitar hidup Kyai Haji Ahmad Dahlan. Bagaimana Alquran yang punya bobot yang luar biasa, kekuatan dahsyat, lau anzalnya haadzal qur’ana ala jabalin………min khasyatillah (Seandainya kami turunkan
Alquran kepada gunung, kamu akan tahu Muhammad, gunung itu akan menolak, tunduk, hancur lumat karena takutnya kepada Allah. Itulah kekuatan dahsyat dari Alquran), tapi tidak diamalkan lagi.

Sekarang ini, berapa juta kali Alquran dibaca setiap hari. Ratusan karya tafsir yang menjelaskan dari kata maupun kalimat untuk menjelaskan ayat-ayat Alquran, berapa pula diangkat di dalam seminar,
simposium, diskusi, namun tetap juga sulit untuk mendapatkan pembaca Alquran itu yang meneteskan air mata. Sudah susah kita menemui orang sesenggukan membaca Alquran. Dan amat sukar kita dapati orang yang terisak-isak karena mendengarkan peringatan ayat-ayat Alquran.

Tidak ada orang yang tersungkur karena mendengar ayat-ayat Alquran, kecuali tersungkurnya karena sujud tilawah itu saja. Masih mending, kita masih mau setia mengikuti sunnah Nabi. Setiap Jum’at Shubuh, Nabi selalu membaca surat As-Sajdah di rakaat pertama, dan surat Al-Insan
di rakaat kedua. Yang seperti ini sekarang di Jogja hampir tidak ada. Kita perlu mengelus dada (prihatin) melihat hal ini. Dibaca saja tidak apalagi diamalkan.
Begitu pula, Islam hanya tinggal namanya. Secara minoritas, orang Indonesia, khususnya orang Jawa, Islamnya cuma dalam tiga hal. Berislam ketika tetak (khitan), ketika menikah, dan saat prosesi
kematiannya. Kalau sudah ditetaki (dikhitan) sudah marem. Anakku wis diislami (anakku sudah diislami), begitu batinnya. Kemudian kalau mau menikah, mereka sudah mantap mengundang Pak Naib. Dan ketika meninggal mengundang ahli tahlil. Dengan ketiga hal itu, sudah dianggap lengkap
Islamnya.

Anehnya, diantara orang-orang yang beragamanya hanya tiga kali seumur hidup itu, malah ada yang diangkat menjadi amirul haj Indonesia. Ini sungguh-sungguh pernah terjadi. Tidak hanya cara berislamnya yang merusak tatanan Islam yang sebenarnya, bahkan dia juga termasuk
perusak dan pemecah belah ummat Islam. Sampai seperti ini yang terjadi di Indonesia yang memang, katakanlah, sedikit atau banyak bersifat gado-gado. Ketika belum ada agama yang masuk, orang Indonesia masih primitif, membakar kemenyan menjadi kebiasaan. Ketika datang ajaran Hindu, diterima. Lalu ketika datang ajaran Budha, juga diterima, datang Islam
juga diterima, dan terakhir, Kristen juga diterima. Semuanya bergabung menjadi satu, Pancasila.

Inilah yang kita lihat di sekitar kita, wajah keberagamaan umat Islam. Masih lumayan, masih ada sekelompok (besar) orang, yang beranggapan kalau sudah berhaji itu sudah lengkap Islamnya. Hal ini bisa dilihat kalau, misalnya, ada satu orang berangkat haji, rombongan bis yang
mengantar bisa sampai tujuh buah, disebabkan oleh penghormatan kepada orang yang mau berangkat haji yang demikian besarnya. Bahkan ketika mengantar sampai di Bandara pun menangisnya bisa sampai sesenggukan. Memang bagus dan elok bisa pergi berhaji. Tapi dengan beribadah haji itu belum tuntas kewajibannya sebagai muslim. Sebenarnya ibadah haji
masih dalam tataran pondasi. Buniyal islamu ala khomsin. Sebab, ada orang yang berhaji
berkali-kali, tapi ternyata keluarganya tidak juga kunjung menjadi
keluarga sakinah.

Nah, ini merupakan catatan penting untuk dakwah Muhammadiyah, bagaimana umat ini dikenalkan dengan berislam yang sebenarnya. Saya tidak menyinggung lebih jauh lagi apa kemudian pedomannya, pelatihannya, dan sebagainya, bukan sekarang saatnya untuk mengungkap
masalah ini. Kita bermuhammadiyah yang paling mendasar adalah berislam. Itulah yang
dituntutkan kepada kita. Bagaimana kita punya sikap hidup setia dan pasrah dengan tatanan aturan hidup Islam. Termasuk yang dulu juga pernah diungkap Kyai Haji Ahmad Dahlan, saya kurang tahu persis kalimat itu, hanya mendengar sepintas, “Hidup sepanjang kemauan
Islam”.

Inilah semangat muhammadiyyin tempo dulu, bagaimana hidup ini dijalani menurut kemauan Islam. Bukan menurut kemauan adat, bukan pula menurut kemauan nenek moyang ataupun tradisi, tapi menurut kemauan Islam. Ini yang menjadi semboyan para pendahulu kita. Saya hanya sempat
mendengar-dengar pada awal tahun 1960. Inilah makna pertama dari
bermuhammadiyah itu.


Para pimpinan dan aktivis Muhammadiyah dituntut untuk tahu dan faham apa makna berislam itu. Tahu dan faham, tidak boleh hanya tahu saja. Doa yang dituntunkan dari Alquran, Rabbi zidni ilma war zuqni fahma. Pertama, tentang ilmunya sendiri, kuncinya memang harus tahu. Tapi,
tahu saja belum bisa melaksanakan, sehingga diikuti dengan yang kedua,
warzuqni fahma, memohon diberikan kefahaman. Dengan faham itu baru ada jalan untuk meraih kebaikan, sebagaimana sabda Nabi man yurudillahu khairan yufaqqihhu fiddin, siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka orang tadi difahamkan agamanya oleh Allah.

Soal tahu ini, dengan hanya sekali mendengar saja orang sudah bisa tahu. Sekali mendengar ceramah sudah bisa tahu. Tetapi untuk bisa faham, tidak cukup dengan sekali mendengar. Maka, Nabi mesti mengulang sesuatu sampai tiga kali. Hal ini kita dapati pada kitab
Riyadush-shalihin. Setiap kali men-datangi suatu kaum Rasulullah mengucapkan salam sampai tiga kali. Sementara, banyak di anatara kita yang malas mengucap salam diulang sampai tiga kali. Malahan mungkin kuatir disebut sebagai orang NU, karena biasanya orang NU itu yang
mengamalkan hal ini.
Kedua, Bermuhammadiyah adalah Berdakwah

Sedikit mengenang orang-orang tua kita, mengenang bagaimana semangat mereka dalam “wa-tawashau bil haq”. Ada sebutan yang cukup populer pada waktu itu, yaitu mubaligh cleleng. Cleleng adalah sebutan untuk jangkrik, yang kalau diberi makan daun kecubung ngengkriknya berkurang, tapi kalau diadu walaupun kakinya sudah patah dua-duanya nggak mau mengalah, kalau perlu sampai mati. Nah, mubaligh yang seperti itu disebut mubaligh cleleng. Termasuk salah satu yang disebut sebagai mubaligh cleleng ini adalah Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Ceritanya, beliau ini jarang ketemu dengan mahasiswanya. Ketika suatu kali mahasiswa menemui beliau dengan mengucap salam, “Selamat pagi, Pak!”. Beliau bertanya, “Kamu siapa?”
“Saya mahasiswa Bapak”, katanya. “Kembali sana, ucapkan dulu
“Assalamu’alaikum”.
Suatu kali ada orang bertamu ke rumah beliau. Mengucap salam dengan “kulonuwun“. Berkali-kali diucapkannya salam itu, tidak dijawab, padahal beliau ada di rumah dan tahu kalau ada tamu. Karena berkali-kali salam tidak dibukakan pintu, tamu itu akhirnya bermaksud pergi. Sebelum sampai orang itu pergi, pintu dibuka oleh Prof. Kahar Muzakkir sambil berkata, “Kibir kamu ya?” “Kenapa?” tanya orang itu. Al-kibru umsibunnas wa jawahul–haq. Kibir itu meremehkan orang Islam
dan tidak mau memakai aturan Islam. Sudah jelas ada tuntunannya mengucap salam Assalamu’alaikum” kalau bertamu ke rumah orang koq malah “kulonuwun”. Inilah contohnya mubaligh cleleng.

Menjadi anggota Muhammadiyah itu tidak sekedar hanya menjadi anggota saja. Kalau anda pernah tinggal di sekitar kampung Suronatan, dan kalau masih ingat, ada yang namanya Haji Khamdani. Saya masih sempat kenal orangnya, ketua Cabang Muhammadiyah Ngampilan. Pekerjaannya
tukang kayu. Beliau termasuk orang yang telah mendapatkan sentuhan-sentuhan dari Kyai Ahmah Dahlan. Padahal, Pak Khamdani ini tidak termasuk orang terpelajar. Sekolahnya paling hanya sampai
sekolah Ongko Loro. Beliau juga tidak termasuk orang kaya. Tetapi karena terkena sentuhan Kyai Ahmad Dahlan, merasa mau bertabligh nggak bisa, mau berdakwah pakai uang juga nggak ada uangnya, lalu beliau mengumpulkan tukang kayu, menyumbang untuk Muhammadiyah lewat
keahliannya sebagai tukang kayu ketika sedang dibangun SR Muhammadiyah I (sekarang SD Muhammadiyah Suronatan). Ini adalah SD Muhammadiyah yang didirikan Kyai Haji Ahmad Dahlan berkat orang-orang yang punya ghiroh, diantaranya mujahid kayu tersebut. Jadi, apa yang bisa disumbangkan kepada Muhammadiyah, disumbangkannya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Yang bisa bertabligh dengan kemampuan bertablighnya. Sampai-sampai, walaupun ilmu agamanya masih minim, ada mubaligh yang membaca saja pating pletot. Rabbil ’alamin
dibaca rabbil ngalamin. Bismillah dibaca semillah. Laa haula walaa quwwata illa billah dibaca walawalabila, nekat untuk bertabligh.

Itulah, karena sentuhan dakwah Kyai Haji Ahmad Dahlan, walaupun cara membacanya belum fasih, tapi berani bertabligh. Mubaligh yang demikian ini sekarang ini memang sering dicibir oleh orang-orang NU. Membaca Quran saja nggak bisa koq berani bertabligh. Oleh Kyai pasti dijawab,
“Dari pada kamu, bisa baca Quran tapi nggak berani bertabligh. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, yaitu bermuhammadiyah itu adalah bertabligh.

Sejarah mengakui bagaimana penampilan anggun dakwah Muhammadiyah. Dosennya Pak Amien Rais di Fisipol UGM, Pak Usman Tampubolon, orang Batak, beliau aktif di Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), tinggal di Jogjakarta. Disertasinya tentang adat Jawa. Beliau mengorek tentang adat Jawa yang hal itu bisa sangat menyinggung orang-orang Jawa. Promotornya tidak mau, mengembalikannya dan menyuruh Pak Usman Tampubolon untuk merubahnya. Pak Usman tidak mau merubah, “Wong saya sendiri yang menyusun koq disuruh merubah”, kata Pak Usman.
Pak Usman berkomentar tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan. Aneh, katanya, dalam sejarah, ketika bangkit gerakan modern di Timur Tengah, dengan tampilnya Syeh Muhammad Abdul Wahab, yang karya paling terkenalnya kitab tauhid, “Al Ushulust-tsalasah”,30) ketika ajarannya diambil,
mesti ada perang dan darah yang mengalir. Kuburan-kuburan di tanah Arab yang sudah begitu rupa, oleh Syeh Abdul Wahab diratakan. Maka, yang namanya Syeh Abdul Wahab ini, di Indonesia juga sangat ditakuti. Tentu kita juga ingat perjuangan Imam Bonjol dengan perang Paderinya.

Ternyata Kyai Haji Ahmad Dahlan yang lahir di Kauman, dan bahkan menjadi pegawai Keraton, koq bisa tenang, rukun dan asyik duduk bersama orang Kraton yang masih mempercayai nenek moyang dengan agama jahiliyahnya. Tidak ada sruduk-srudukan di antara mereka. Hal ini membuat Pak Usman Tampubolon heran. Sosiologi apa yang dimiliki Kyai Haji Ahmad Dahlan. Seandainya Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir dan mendirikan Muhammadiyah di Sumatera Barat, maka Muhammadiyah hanya ada di sana. Keadaan ini menarik. Fenomena apa ini, koq Kyai Haji Ahmad
Dahlan tenang–tenang saja, mengapa tidak terjadi benturan. Pada sisi lain, kita juga menyadari adanya kepercayaan tradisi yang masih melekat di kalangan aktifis Muhammadiyah, terutama soal
kematian. Memang Muhammadiyah telah membersihkan hal-hal bid’ah. Tetapi nampaknya masalah ini sekarang mulai bermunculan lagi. Dihidupkan lagi tradisi lama. Apalagi Sidang Tanwir di Bali yang lalu membicarakan topik Dakwah Kultural. Orang belum tahu persis koq sudah melangkah lebih lanjut. Jujur saja, dan harus kita akui, bahwa Muhammadiyah yang tadinya cukup
anggun, dengan jasa besarnya yang telah ikut mencerdaskan bangsa ini, selama lebih kurang 93 tahun berdakwah, ternyata belum dan tidak sanggup menggoyang kekuatan Nyai Roro Kidul. 93 tahun bukan waktu yang singkat.

Ini merupakan masalah yang serius, sebab kekuatan kaum itu sedemikian besarnya. Mereka punya seragam khusus dan punya pos-pos ribuan banyaknya. Yang kita kaget ketika Pemilu tahun 1999 kemarin, kekuatan mereka seperti itu. Itulah barangkali yang melatar-belakangi Sidang Tanwir membicarakan masalah dakwah kultural. Hampir-hampir Muhammadiyah tidak menyadari tentang adanya budaya-budaya itu. Masalah bagai-mana menari yang Islami, Muhammadiyah tidak bisa menjawab. Kalau saya ada jawaban lain kenapa perlu ada dakwah kultural. Saya lebih cenderung memakai alat yang lain. Apa Kyai Ahmad Dahlan waktu itu memakai dakwah kultural? Tidak. Yang memakai itu kan Walisongo, Sunan Kalijogo. Lalu, apa rahasianya Kyai Ahmad Dahlan? Satu keunggulan Muhammadiyah yang tidak dimiliki oleh yang lain, adalah adanya karya amal Muhammadiyah. Kyai Haji Ahmad Dahlan sanggup menampilkan Islam yang bisa dilihat dan dinilai bermanfaat oleh ummat. Tidak tanggung-tanggung, Muhammadiyah telah melahirkan dua presiden, terlepas dari presidennya itu seperti apa. Bung Karno dan Soeharto adalah anak didik Muhammadiyah. Inilah jasa besar Muhammadiyah di
bidang pendidikan. Ketika berada di Boyolali dalam tugas Rihlah Dakwah, di sebuah panti
asuhan yang gedungnya berlantai dua, sangat megah, saya diberitahu bahwa yang membangun gedung itu adalah seorang pensiunan dari Jakarta. Ia datang ke Boyolali mencari-cari orang Muhammadiyah. Ia mengakui dulunya lulusan SMP Muhammadiyah Nogosari Boyolali. Setelah lama
menjadi pegawai di Jakarta kemudian ia ingat kembali Muhammadiyah. Sementara, kadang-kadang, kita kalau sudah jadi pegawai tidak kober lagi mikir Muhammadiyah, karena sibuk mikirin duit terus. Apalagi kita ini termasuk sebagai pewaris falsafah “sendu” (seneng duit), merasa
senang dengan hal itu. Harus secara jujur kita akui bahwa kita memang senang terhadap duit.
Nah, pensiunan dari Jakarta tadi punya tabungan dan ingin menyumbangkannya kepada Muhammadiyah. Semua tukang yang bekerja membangun panti itu ia yang bayar. Inilah salah satu contoh bagaimana pengaruh pendidikan Muhammadiyah. Kita juga bisa merasakan bagaimana sentuhan-sentuhan darah kita yang memang belum bisa dicerna dan baru sedikit sekali. Kalau kita lihat ke sekretariat PP Muham-madiyah, anggota Muhammadiyah sekarang sudah mencapai jumlah deretan 6 angka, tapi angka pertama baru 8. Artinya, belum ada 1 juta orang, itu pun masih dikurangi lagi dengan yang sudah meninggal. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, wajah dari
Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah yang perlu dibenahi.

Ketiga, Bermuhammadiyah adalah Berorganisasi

Pemahaman KHA. Dahlan terhadap Alquran surat Ali Imran ayat 104 telah melahirkan pergerakan Muhammadiyah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana ulama pendahulu kita itu bisa menangkap isyarat-isyarat Alquran, sehingga memilih organisasi sebagai alat dakwah. Sebab, sebelum itu,
organisasi yang ada sifatnya masih sederhana. SDI atau SI yang muncul sebelumnya karena kebutuhan yang mendesak. SDI muncul untuk mengim-bangi perdagangan Cina. Sedang kelahiran SI tidak lepas dari pengaruh politik. Kita tahu, di dunia politik ada dua rayuan, rayuan surga dan rayuan kursi. Sedang, di Majelis Tabligh yang ada cuma surga saja yang menjadi harapannya.

Berorganisasi, oleh beliau-beliau ini, walaupun saat itu belum ada Majelis Tabligh, tapi di benak para pemimpin kita itu sudah jauh sekali yang dijangkau untuk nanti bagaimana rencana ke depannya.
Mengapa begitu yakin? Sebab tidak mungkin tegaknya Islam, izzul Islam wal muslimin, itu ditangani oleh orang per-orang. Saya tidak tahu persis, penduduk Indonesia saat itu berapa jumlahnya. Saya hanya ingat ada sekitar 77 jutaan penduduk Indonesia di tahun 1960-an. Jadi, pada jaman Kyai Dahlan itu kira-kira ada 30 jutaan penduduk Indonesia, pada saat lahirnya Muhammadiyah.

Yang dihadapi Rasulullah pada jaman beliau, menurut Pak AR, hanya sekitar 700 ribu. Perkiraan ini didasarkan pada perhitungan bahwa saat Haji Wada’ jumlah jama’ah yang hadir ada 140 ribu. Jika setiap orang punya lima anggota keluarga, maka jumlahnya sekitar 700 ribu. Dibulatkan lagi, misalnya, menjadi 1 juta. Ummat yang sekitar 700 ribu sampai 1 juta itu bisa ditangani karena ada figur Nabi Muhammad SAW, ada Abu Bakar, ada Umar bin Khattab, dan lain-lainya. Dan yang
kita kenal lainnya, ada sepuluh sahabat Nabi yang dijamin bakal masuk surga sebelum Rasullah meninggal.

Sekarang ini, kita kesulitan menentukan orang-orang yang seperti itu. Kalau toh ada hanya segelintir. Katakanlah, kalau saya membuat contoh tentang uswah hasanah, jujur saja, siapa orang Jogja yang layak menjadi uswah hasanah, kita kesulitan mencarinya. Belum lagi di Temanggung, siapa yang layak menjadi uswatun hasanah. Padahal Muhammadiyah telah berkembang sedemikian luas. Ini baru dari sisi soal uswah hasanah saja.

Ketika Kyai Dahlan menyampaikan pengajian di Pekajangan Pekalongan, ada audien/peserta pengajian itu, yang memperhatikan betul terhadap Kyai Dahlan. Rupanya orang ini adalah orang alim dan orang saleh. Ia memperhatikan secara seksama wajah Kyai Haji Ahmad Dahlan. Diawasinya
ekspresi wajah dan mimik Kyai Haji Ahmad Dahlan. Apalagi Kyai Dahlan waktu itu mengaku sebagai pimpinan Persyarikatan yang didirikan di Jogjakarta. Hanya dengan melihat wajah, orang saleh ini bisa menentukan apakah seseorang itu saleh, jujur, dan sebagainya. Ia tahu hal itu tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan, tapi ia merasa tidak puas dengan hanya melihat penampilan Kyai Dahlan waktu itu.
Ketika Kyai Haji Ahmad Dahlan pulang ke Jogja orang tadi mengikuti. Sampai di Jogja ia bertanya kepada orang, di masjid mana Kyai Dahlan sholat. Ia tidak bertanya tentang apa, tapi cukup bertanya tentang sholatnya Kyai Haji Ahmad Dahlan. Setengah jam sebelum adzan shubuh, orang itu sudah datang ke masjid, maksudnya mau menunggu jam berapa Kyai Haji Ahmad Dahlan datang. Ia tertegun karena orang yang ditunggunya sudah ada di Masjid itu. Lalu komentarnya, “Pantas kalau
Kyai Haji Ahmad Dahlan mengaku sebagai pemimpin Muhammadiyah”. Orang itu tidak lain adalah Buya A.R. Sutan Mansur muda. Beliau adalah saudara dari Sutan Ismail, seorang mubaligh terkenal di Pekalongan, yang berasal dari negeri Minangkabau.

Lain lagi cerita tentang Pak AR Fahruddin. Di mata saya beliau adalah orang yang paling zuhud di Muhammadiyah, satu-satunya ketua PP Muhammadiyah yang tidak punya rumah sendiri. Tempat tinggalnya di Jalan Cik di Tiro adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Ketika beliau meninggal, istrinya kemudian ikut salah seorang anaknya, Sukriyanto AR. Sekarang, bekas rumah beliau itu telah dipugar dan dibangun gedung berlantai tiga yang menjadi kantor PP Muhammadiyah
Jogjakarta yang baru, yang juga baru diresmikan pada 1 Muharram yang lalu. Namun bukan ini persoalannya. Para pengurus PP Muhammadiyah kalau sakit biasanya memang dilayani oleh Rumah Sakit Muhammadiyah. Seperti RSU PKU di Jogja atau RSI di Jakarta. Lukman Harun ketika sakit, sebelum meninggal, juga dilayani oleh Muhammadiyah di RSI Jakarta.

Ketika Pak AR kebetulan sakit dan mau operasi karena sakit, tidak ada satupun orang uhammadiyah yang tahu. Pak AR sendiri juga tidak ingin diberi fasilitas. Tapi, sebuah kelompok pengajian kecil yang tidak jauh dari kediaman Pak AR tahu kalau Pak AR sakit dan mau operasi.
Mereka tahu betul bagaimana keadaan Pak AR itu, seorang pensiunan pegawai Penerangan Agama Jawa Tengah yang gaji pensiunannya hanya 80 ribu, bukan ratusan ribu. Kelompok pengajian tadi lalu menyebarkan warta, dan terkumpullah uang sebanyak 600 ribu yang kemudian diserahkan kepada keluarga Pak AR untuk biaya berobat. Namun, setelah Pak AR sembuh, pengurus kelompok pengajian itu diundang Pak AR. Pak AR mengucapkan terima kasih atas bantuan tersebut,
kemudian Pak AR memberikan bingkisan. Supaya puas, pengurus tadi membuka bingkisan itu. Di dalamnya ada uang 300 ribu. Pengurus kelompok pengajian itu kaget dan berkata bahwa mereka telah ihlas. Pak AR menjelaskan bahwa operasinya hanya menghabiskan biaya 300 ribu,
maka sisanya dikembalikan.

Coba, apa ada sekarang orang yang seperti Pak AR itu. Yang ada malah sebaliknya, ada mubaligh yang sampai menawar harga untuk sekali ceramahnya. Saya pernah pergi ke Sulawesi, berdampingan dengan seseorang yang bercerita bahwa ia pernah sekali mengundang penceramah
dari Jakarta. Amplopnya mesti 6 juta, belum termasuk tiket pesawatnya, dan ini harga mati. Begitulah. Tapi, kalau kita aktif di Muhammadiyah tidak boleh seperti itu.

Yang kita garap sekarang ini adalah ummat yang jumlahnya lebih dari 200 juta. Jika pada masa Kyai Haji Ahmad Dahlan itu kira-kira ada 30 juta ummat yang juga sudah memerlukan kekuatan untuk berdakwah, dan kekuatan itu berupa organisasi, maka sehebat-hebatnya Zainuddin MZ,
yang dikenal sebagai da’i sejuta ummat, beliau tidak sanggup membangun ummat. Di Jogja juga ada mubaligh terkenal. Tapi, paling-paling beliau juga cuma bisa dikenal. Tidak akan bisa membangun ummat, karena untuk membangun ummat diperlukan kekuatan massa, dan kita harus mau serius.

Saya cukup tajam untuk menggugat tentang masalah pendidikan Muhammadiyah di sini. Saya buat global saja, baik UMS, UMM, UMY, UHAMKA dan sekitar 130 PTM, ditambah puluhan ribu sekolah
Muham-madiyah, 90% siswa atau mahasiswanya adalah bukan putra Muhammadiyah. Termasuk di UMY, ketika saat itu ada training untuk mahasiswa baru, rata–rata sholatnya memakai usholli. Memang ada sedikit yang berasal dari IPM/IRM.

Gugatan saya, baik yang di sekolah maupun yang di PTM, kalau mereka masuk di lembaga pendidikan Muhammadiyah, masuk dengan usholli dan keluar tetap usholli, maka Muhammadiyah sudah gagal dalam menyelenggarakan pendidikannya. Sehebat apapun sekolah Muhammadiyah,
koq setelah sholat malah yasinan. Yang lebih ngeri lagi, karena kita tidak memikirkan hal itu, setiap
tahun kita meluluskan sekitar 40 ribu siswa/mahasiswa. Dari sebanyak itu, berapa yang kemudian menjadi mujahid dakwah?

Saya pernah berbicara dengan Pak Umar Anggoro Jenie (mantan Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), ketika menjelang Muktamar di Jakarta tentang hal ini. Siapa di antara alumni perguruan Muhammadiyah itu, yang tampil menjadi mujahid dakwah, pada hal mereka, kurang lebih
lima tahun, di tangan kita, merah hijaunya para sarjana itu kita yang membuatnya. Juga yang di sekolah-sekolah Muhammadiyah itu, paling tidak selama tiga tahun mereka kita didik.

PKI, waktu itu, tidak punya lembaga pendidikan, tapi mereka mampu melahirkan kader-kader yang militan. Sedangkan di Muhammadiyah, siapa di antara kita yang pantas di sebut sebagai kader militan. Ini perlu menjadi PR kita, bagaimana mengurus Muhammadiyah secara serius. Jangan-jangan di Muhammadiyah ini malah cuma sekedar mencari penghidupan saja. Apakah kalimat semboyan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah” masih relevan? Padahal, waktu itu semboyan ini sangat terkenal dan biasa ditulis di majalah dan di dinding-dinding gedung amal usaha Muhammadiyah. Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini, dan bagaimana reaksi kita atas ungkapan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.

Namun, alhamdulillah, dapat kita perkembangan Muhammadiyah saat ini sudah sebegitu pesat. Kita mungkin tidak tahu, yang namanya sholat Ied di lapangan pada waktu itu belum ada di kota Jogjakarta. Sebab saat itu sholat Ied hanya ada di Masjid Besar Kauman. Oleh Pak Sultan, tidak boleh shalat Ied di Alun-alun, kalau ingin shalat Ied di lapangan disuruh cari tempat sendiri, sehingga Muhammadiyah membeli lapangan Asri di Wirobrajan. Dan sekarang ini sudah menyebar ke mana-mana kalau sholat Ied itu diseleng-garakan di lapangan, sesuai dengan sunnah Nabi. Memang ada 9 hadis tentang masalah ini, tapi hanya ada satu hadis yang menyebut shalat Ied di masjid dan itu pun hadis dhoif. Kalau kita lihat di masjid-masjid, jika ada garis shaf yang miring tidak sejajar dengan bangunan masjid (karena menyesuaikan arah kiblat), itu adalah hasil dari perjuangan Kyai Dahlan. Dulu, untuk memperjuangkan lurusnya arah kiblat ini, langgar Kyai Dahlan di Kauman dirobohkan oleh tentara Kraton, karena Kyai Dahlan membetulkan arah kiblat di Masjid Besar Kauman. Itu adalah salah satu contoh pengorbanan beliau.

Orang tidak tahu bagaimana jasa-jasa Kyai Haji Ahmad Dahlan. Termasuk dalam hal qurban yang dilaksanakan di kantor-kantor, sekolahan-sekolahan, dan lain-lainnya. Semua itu adalah jasa Kyai
Ahmad Dahlan. Sekarang, dapat kita lihat sudah merebak di mana-mana, misalnya di kantor bupati menyembelih qurban seekor lembu, gubernur juga seekor lembu, dan sebagainya. Padahal menyembelih qurban di kantor dan sekolahan itu tidak ada nashnya. Alasanya hanya satu, yaitu
latihan. Dan masih banyak lagi amal usaha Muhammadiyah yang dengan itu orang menjadi tahu Islam yang sebenarnya, melalui karya-karya Islami Muhammadiyah tersebut. Yang namanya surat Al-Maun, dulu hanya menjadi hafalan orang saja. Tapi di benak Kyai Dahlan, jadilah pengamalan dari surah itu, panti-panti asuhan, rumah sakit-rumah sakit, yang merupakan pemahaman
beliau atas surat Al-Maun.

Di sinilah keberhasilan dakwah Muhammadiyah dapat dilihat. Tanpa ada benturan yang berarti ia menjadi diminati oleh ummat. Cuma, sekarang masalahnya terletak pada diri kita sendiri, karena kita ini sudah menjadi pewaris amal usaha Kyai Haji Ahmad Dahlan. Pertanyaannya, untuk apa amal usaha yang telah diwariskan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Mau diapakan, misalnya, anak-anak asuh panti asuhan yang hidup, makan, dan semuanya dicukupi Muhammadiyah, mau diapakan lagi mereka ini kalau tidak kita jadikan kader kita.

Keempat dan Kelima, Bermuhammadiyah adalah Berjuang dan Berjihad serta
Berkorban.
Yang keempat, bermuhammadiyah itu berjuang dan berjihad.
Yang kelima, bermuhammadiyah adalah berkorban.
Untuk dua hal yang terakhir ini belum sempat saya angkat. Sebenarnya
mau saya sampaikan karena waktunya belum ada, maka saya minta maaf.




*) Transkrip Ceramah Ustadz Ibnu Juraimi dalam Pengajian di PDM
Temanggung Jawa Tengah. Ditranskrip oleh Arief Budiman Ch.




Muhammadiyah dalam Potret Ideal

Kita semua menginginkan Muhammadiyah dapat berbuat yang lebih banyak lagi untuk umat di masa kini dan masa yang akan datang. Muhammadiyah pernah menjadi lokomotif umat di masa lalu dan jika di masa yang akan datang ingin kembali mengambil peran itu tentu Muhammadiyah harus banyak melakukan perbaikan dan penataan diri kembali agar lebih sesuai dengan tuntutan zaman yang jauh berubah dari masa lalu. Berikut adalah potret Muhammadiyah dalam imajinasi idealnya:

a. Fungsi dan Peranan
Muhammadiyah telah menegaskan diri sebagai gerakan Islam dan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar, beraqidah Islam dan bersumber pada al Quran dan as Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT (MKCH Muhammadiyah; ayat 1).

Sebagai konsekuensi dari cita-cita perjuangannya, Muhammadiyah hendaknya memiliki paling tidak 3 (tiga) fungsi sosial kemasyarakat, yaitu sebagai pendidik, pelayan dan pengayom masyarakat. Sebagai pendidik Muhammadiyah membangun visi individu dan masyarakat tentang hakekat kehidupan manusia sebagai abdi Allah dan kholifah di muka bumi. Tidak hanya itu, Muhammadiyah memberikan pendidikan masyarakat untuk sedapat mungkin menjadi hamba-hamba yang ideal dan kholifah-kholifah yang ideal pula, memberikan visi dan misi hidup yang jelas serta memberikan pemberdayaan kepada mereka. Dengan demikian masyarakat menjadi berilmu dan dapat beramal secara masksimal untuk dirinya dan untuk lingkungannya. Lebih jauh lagi akan tercipta kelompok masyarakat yang cerdas, berilmu dan mandiri. Sebagai pelayan Muhammadiyah menyiapkan kebutuhan-kebutuhan masyarakat untuk dapat hidup sebagai muslim yang maksimal baik secara pribadi maupun sosial. Muhammadiyah memberikan santunan ruhani, kesehatan, kesejahteraan sosial, dan lain-lainnya. Pada konteks ini Muhammadiyah melayani masyarakat untuk terwujudnya sebuah kehidupan Islam yang sebenar-benarnya di seluruh bidang kehidupan masyarakat. Dan yang ketiga sebagai pengayom Muhamadiyah dapat menjadi penentram masyarakat. Masyarakat sedang dan akan menghadapi tantangan hidup yang semakin berat. Dan Muhammadiyah dibutuhkan untuk dapat lekat di hati masyarakat, selalu menjadi tempat bertanya dan mencurahkan keluhan mengenai berbagai permasalahan yang sedang mereka hadapi. Jika peran pendidikan dan pelayanan dapat dijalankan oleh Muhammadiyah, maka Muhammadiyah tentu dengan sendirinya akan menjadi tempat masyarakat menyandarkan dirinya.

b. Wilayah Garap
Dalam Matan Keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah ayat ke-4 dijelaskan bahwa “Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang aqidah, akhlaq, ibadah dan mu’ammalah duniawiyah”. Sementara itu dalam Kepribadian Muhammadiyah poin ke-tiga disebutkan : “Muhammadiyah berpegang teguh akan ajaran Allah dan Rosul-Nya, bergerak membangun di segenap bidang dan lapangan dengan menggunakan cara serta menempuh jalan yang di ridhoi Allah SWT”.
Kedua potongan rumusan ideologi Muhammadiyah yang lahir tahun 60 an tersebut memberikan gambaran bahwa Muhammadiyah bergerak di segenap bidang dan lapangan yang mengarah pada terwujudnya masyarakat Islam sebenar-benarnya. Di ayat 4 MKCH Muhammadiyah, adanya 3 masalah agama yang di sebutkan secara khusus, yaitu aqidah, akhlaq dan ibadah. Ini menunjukkan bahwa masalah aqidah, akhlaq dan ibadah adalah sesuatu yang sangat penting dan mendapat porsi yang besar. Sementara mu’ammalah duniawiyah yang berisi berbagai macam hal tentang pengelolaan dunia dengan segala kompleksitas persoalannya hanya dijadikan satu bagian, yaitu mu’ammalah duniawiyah. Mu’ammalah duniawiyah di sini adalah berbagai hal yang berurusan dengan pengelolaan dunia seisinya. Termasuk di dalamnya adalah bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, seni budaya, politik, dan lain-lainnya. Ini menunjukkan bahwa perhatian Muhammadiyah pada masalah keyakinan, perilaku moral dan sosial serta hubungan dengan Allah dalam peribadatan tidak kalah besar dengan perhatiannya terhadap masalah-masalah keduniaan. Bagaimana Muhammadiyah bergerak di setiap bidang tersebut?
• Bidang Keislaman. Yang dimaksud dalam bidang ke-islaman di sini adalah mengenai aqidah, akhlaq dan ibadah. Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar. Sebagai gerakan yang menklaim sebagai gerakan Islam, tentu Muhammadiyah menempatkan persoalan aqidah sebagai sesuatu yang terpenting. Aqidah adalah masalah konsep dan kepercayaan hidup. Mulai dari konsep inilah arah hidup manusia akan berbeda satu dengan yang lain. Islam mengajarkan hidup yang bertauhid, memberikan orientasi hanya untuk pengabdian kepada Allah. Konsep yang benar tentu akan membawa pada akhlaq dan ibadah yang benar pula.
Dalam konteks sebagai gerakan Islam, Muhammadiyah mengemban misi sebagai penyampai tauhid kepada umat manusia sebanyak-banyaknya. Muhammadiyah mengajak mentauhidkan Allah dan menentang segala bentuk penyekutuan maupun pengingkaran terhadap-Nya. Sementara mengenai masalah ibadah, Muhammadiyah mengajak untuk menauladani utusan Allah dalam menjalankan ibadah kepada-Nya.

• Bidang Pendidikan. Muhammadiyah menyadari bahwa masyarakat Islam yang sebenar-benarnya akan terwujud ketika masyarakat berkualitas. Untuk menuju masyarakat yang berkualitas memerlukan pendidikan. Muhammadiyah sebagai pendidik dan pelayan masyarakat hendak mewejudkan harapanya tersebut dengan memberikan pendidikan kepada masyarakat. Pendidikan Muhammadiyah ini memberikan orientasi hidup tauhid yang jelas, kepribadian yang sholih dan keahlian di berbagai bidang keilmuan.
Untuk mewujudkannya Muhammadiyah perlu menyelenggarakan kajian-kajian dan pengajian-pengajian formal dan non formal, pendidikan sekolah TK s.d. perguruan tinggi, kursus-kursus dan lain sebagainya.

• Bidang Kesehatan. Di bidang kesehatan Muhammadiyah mengharapkan terwujudnya masyarakat sehat, yaitu masyarakat yang bebas dari penyakit. Kalaupun terpaksa harus sakit Muhammadiyah memberikan pelayanan kesehatan untuk penyembuhan para penderita sakit. Oleh karena itu yang kemudian harus dilakukan Muhammadiyah adalah memberikan pendidikan hidup sehat kepada masyarakat, menyediakan sarana-sarana untuk terwujudnya hidup sehat dan menyediakan balai-balai kesehatan untuk penyembuhan para penderita sakit.

• Bidang Ekonomi. Dalam bidang ekonomi Muhammadiyah hendak mewujudkan masyarakat yang bebas dari kekurangan dan kemiskinan. Karena kemiskinan dapat membawa pada kekufuran. Kemiskinan biasanya diukur dengan kekurangan harta kekayaan. Karena ketersediaan dan perolehan harta yang sangat kecil akhirnya orang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak. Kemiskinan muncul karena banyak sebab, di antaranya karena kemalasan, kekurangan ketrampilan, sikap mental rendah diri, keterbatasan akses, serta karena sistem di masyarakat yang tidak adil. Dalam masalah ini Muhammadiyah perlu berusaha untuk memberikan solusi terhadap berbagai sebab munculnya kemiskinan-kemiskinan tersebut.
Contoh usaha tentang masalah ini antara lain, pelatihan AMT, pemberian ketrampilan, membatu mengakses jaringan yang lebih luas, dan jika penyebabnya adalah struktur sosial yang dholim maka Muhammadiyah perlu terlibat dalam membongkar struktur tersebut dan mengkonstruksinya kembali secara lebih baik.

• Bidang Seni Budaya. Megenai masalah seni, Muhammadiyah hendak mewujudkan seni yang mampu mendekatkan diri manusia kepada nilai-nilai ketuhanan dan menjauhkan masyarakat dari seni yang hanya mengedepankan hiburan saja, apalagi yang mengajak kepada kemaksiatan dan kemunkaran. Tentang masalah ini Muhammadiyah perlu memebrikan tawaran seni alternatif dari seni yang secara umum berkembang yang kebanyakan bersifat sangat profan. Demikian pula mengenai masalah budaya. Muhammadiyah menyadari bahwa manusia adalah makhluk budaya, oleh karena itu budaya manusia adalah sesuatu yang perlu dihargai selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan yang diperjuangkan oleh Muhammadiyah. Oleh karena itu Muhammadiyah perlu menjadi kontrol budaya yang berkembang agar budaya ini berrsifat keilahian.

• Bidang Politik. Politik adalah urusan yang berkaitan dengan negara dan kekuasaan. Di kalangan umat Islam, ada dua kutub besar memahami negara dan kekuasaan dalam konteks sebagai ajaran Islam. Pertama, Mereka yang memandang bahwa Islam itu sistem hidup yang kaffah. Karena kekaffahanya itu maka negara menjadi bagian tak terpisahkan dari Islam. Setiap aturan Islam yang terdapat dalam al Quran dan as Sunnah akan sempurna penegakannya jika aturan-aturan tersebut menjadi undang-undang negara. Maka negara menjadi bagian penting dalam mewujudkan Islam yang ideal. Salah satu dalil yang dijadikan landasan pemahaman ini adalah keharusan manusia berhukum dengan hukum Allah, yaitu firman Allah SWT : “faman lam yahkum bimaa anzalallah faulaaika humul kaafiruun”. Artinya: “Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka adalah orang-orang kafir”. (Q.S. al Maidah : 5 : 44). Ayat tersebut dipahami bahwa berhukum dengan hukum Allah harus dilakukan dengan mem-formal-kan hukum-hukum tersebut dalam undang-undang dan peraturan-peraturan pemerintah. Pemahaman ini diperkuat oleh argementasi qoidah Ushuliyah yang berbunyi : “maa laa yatimmul waajibu illaa bihi fa huwa waajibun”. Artinya: “Sesuatu yang tanpanya menjadikan sebuah kewajiban tidak sempurna, maka sesuatu itu ikut menjadi wajib” . Maksudnya, wajibnya berhukum dengan hukum Allah secara sempurna menyebabkan wajibnya memasukkan hukum-hukum nash al Quran dan as Sunnah tersebut ke dalam undang-undang dan peraturan-peraturan negara, dan lebih sempura lagi jika negara tersebut adalah negara yang melandaskan pada Islam secara keseluruhan atau disebut negara Islam. Oleh karena itu, kutub ini mencita-citakan terwujudnya negara Islam secara formal.
Kedua, Mereka yang memandang negara adalah bagian dari persoalan muammalah duniawi. Negara menjadi salah satu jalan untuk menjadikan Islam sebagai nilai yang membingkai seluruh aspek kehidupan manusia. Karena negara hanya menjadi salah satu jalan saja, maka masih ada jalan yang lain yang dapat ditempuh untuk mewujudkan Islam dalam kehidupan manusia. Mereka mengakui bahwa negara dan kekuasan adalah faktor penting dalam mewujudkan kehidupan yang tertib. Negara dan kekuasaan juga dapat menjadi alat yang ampuh untuk menjadi media menanamkan nilai Islam kepada rakyat. Karena daya paksanya negara, maka rakyat tentu dengan mudah dapat digerakkan untuk melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Perbedaannya, kutub ini tidak memutlakkan negara menjadi sarana itu, serta tidak memaknai bahwa kekaffahan Islam itu selalu sempurna dengan formalisasi ajaran ke dalam undang-undang negara. Argumentasi golongan ini adalah: pertama, Adanya realitas keragaman nilai ajaran serta keyakinan dan faham agama di masyarakat baik keragaman sesama agama maupun antar agama. Menyatukan aturan yang sifatnya fiqhiyah (pemahaman ajaran agama) dalam sebuah undang-undang akan melukai sebagaian kalangan yang memiliki pemahaman yang berbeda. Kedua, beragama adalah sebuah penyerahan diri yang utuh dan tulus kepada Allah SWT. Pelaksanaan agama yang didorong oleh tekanan aturan negara akan menjadikan beragama sebagai kewajiban formal saja, lepas dari kepentingan agama yang lebih hakiki. Ketiga, usaha untuk mewujudkan aturan agama ke dalam undang-undang atau bahkan untuk menjadikan negara agama sering beresiko melahirkan sikap dan keputusan yang ambivalen dengan nilai-nilai agama yang luhur dan hakiki karena faktor kepentingan pragmatis. Keempat, Dalam sejarah umat Islam, sejak khulafaaurrasyidin sampai dengan hari ini, memperjuangkan Islam melalui jalur kekuasaan dan negara selalu melahirkan konflik dan perpecahan umat Islam, bahkan tidak jarang harus berdarah-darah.
Dari kedua model yang ada Muhammadiyah dapat memilih model yang kedua. Muhammadiyah tidak memilih menjadikan Islam yang formal dalam sebuah negar, bukan karena itu itu tidak benar, melainkan itu bukan satu-satunya jalan mengislamkan masyarakat atau menurut Muhammadiyah itu bukan jalan yang terbaik. Muhammadiyah memilih terlibat langsung dalam mendidik dan melayani masyarakat melalui berbagai amal usaha di banyak sektor kehidupan. Sementara keterlibatan Muhammadiyah dalam proses politik negara dan kekuasaan dicukupkan dengan mendorong sebagian kader-kadernya untuk terlibat secara individual melalui berbagai jalur politik yang dapat mereka tempuh dan menjadi pilihan terbaiknya. Selama mereka adalah kader-kader yang taat ber-Islam, memiliki kapasitas yang cukup tentu nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang akan mereka perjuangkan untuk negara dan kekuasaan yang ada.
• Dan lain-lainnya. Mengapa dikatakan yang lainnya? Muhammadiyah bergerak di semua bidang dan lapangan muammalah duniawiyah. Dengan demikian segala macam hal yang menyangkut pengelolaan dunia untuk terwujudnya masyarakat Islam sebenarnya, sektor apapun itu, menjadi wilayah garap Muhammadiyah. Di semua sektor tersebut Muhammadiyah hendak menjadikannya senantiasa berjalan dalam bingkai dan jiwa Islam.


c. Strategi gerakan
Sebuah ungkapan mengatakan bahwa : al haqqu bilaa nidhoomin yaghlibuhu al baathilu bi nidhoomin. Sebuah kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir dengan rapi. Dalam Muqoddimah Angaran Dasar Muhammadiyah pokok pikiran ke-6 dijelaskan bahwa “Perjuangan mewujudkan maksud dan tujuan di atas hanya dapat dicapai apabila dilaksanakan dengan cara berorganisasi”. Kedua ungkapan tersebut memberikan penjelasan bahwa mengorganisir kebaikan adalah mutlak. Dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya Muhammadiyah perlu menyiapkan strategi yang handal. Paling tidak ada empat tiang pokok untuk berdiri tegaknya sebuah gerakan, yaitu SDM yang kuat, finansial yang cukup, media komunikasi yang masif dan organisasi yang efektif. Berikut adalah deskripsi ringkas keempat strategi gerakan Muhammadiyah.

• Strategi pembangunan SDM (Kaderisasi). Semua orang sepakat bahwa SDM adalah aset penting untuk sebuah organisasi. Di banyak perusahaan SDM dikelola secara khusus untuk mendapatkan kualitas yang maksimal. Dalam sebuah gerakan pun demikian. SDM atau sering disebut dengan istilah kader juga memiliki arti sangat penting untuk pengembangan gerakan. Karena kepentingannya tersebut maka pendidikan terhadap kader harus benar-benar diperhatikan.
Pendidikan kader diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan kader baik secara kuantitas maupun kualitas. Persoalan masyarakat sangat kompleks dan membutuhkan orang-orang berkualitas dan banyak untuk menyelesaikannya.
Kualitas yang diinginkan dapat dikategorikan ke dalam dua kompetensi, pertama kompetensi standar dimana setiap kader harus memilikinya, seperti kompetensi personal yang meliputi aqidah yang lurus, akhlaq yang mulia, ibadah yang benar, fisik yang sehat, jiwa yang kuat dan wawasan yang luas. Kedua adalah kompetensi profesional. Setiap manusia dengan sendirinya akan memiliki peran di sebuah sektor kemasyarakatan. Bagi aktifis dakwah, di manapun sektor yang digeluti, di sanalah lahan dakwah untuknya. Oleh karena itu setiap kader harus memiliki kompetensi profesional di bidangnya masing-masing.
Adapun tanggung jawab kaderisasi di Muhammadiyah adalah mengatur agar kualitas kader baik dengan kompetensi standar personal maupun profesional serta penyebarannya ke seluruh sektor sosial dapat semaksimal mungkin terpenuhi.

• Strategi Pembiayaan. Dana adalah salah satu hal terpenting dalam aktifitas sebuah gerakan. Ada beberapa pilihan mendapatkan dana untuk membiayai gerakan. Di antaranya : iuran anggota, infaq anggota, donatur tetap, donatur temporer, kerjasama program, dll. Semua pilihan tersebut dapat dilaksanakan dengan proporsi masing-masing selama tidak mengganggu kepentingan gerakan. Yang terpenting adalah kebutuhan pembiayaan gerakan dapat terpenuhi dengan tetap menjaga idealisme dan jati diri gerakan.
Sekedar gambaran bahwa selama ini gerakan Islam selalu merasa sulit mendapatkan pembiayaan yang cukup. Karena kesulitanya seringkali kemudian mengambil jalan pintas mengorbankan idealisme dengan mengambil proyek-proyek besar dari organisasi-organisasi donor. Meskipun tidak semuanya buruk menuntut mengalahkan idealisme, usaha itu kemudian melupakan usaha-usaha yang bersifat konfensional yang berasal dari partisipasi anggota dan kader sendiri. Pada konteks ini, sesungguhnya terdapat potensi dana yang sangat besar dari internal masyarakat sendiri yang masih belum terolah dengan baik. Islam mengajarkan zakat, infaq dan sodaqoh. Jika ketiga amalan tersebut dapat di atur dengan profesional, maka akan terkumpul dana yang demikian besar untuk membangun masyarakat dan pada saat yang sama membiayai gerak perjuangan gerakan.

• Strategi Media. Setiap orang, kelompok maupun organisasi akan dinilai dan diperlakukan orang lain atau organisasi lain berdasarkan informasi yang diterima oleh para penilai itu. Jika informasi yang mereka terima positif tentu akan positif pula nilainya, demikian juga sebaliknya.
Media adalah salah satu cara yang terbukti efektif untuk membangun citra dan memberikan informasi kepada masyarakat umum secara masif. Oleh karena itu media memiliki peran penting bagi sebuah gerakan untuk mendidik masyarakat, membangun citra dirinya sendiri dan untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan dengan cara menyebarluaskan informasi yang memang layak disebarluaskan.
Media yang dimaksud sangat beragam macamnya. Pertama, media yang bersifat tidak langsung dan searah, seperti stiker, spanduk, buletin, majalah, surat kabar, dll. Kedua, media yang bersifat langsung dan interaktif, seperti pengajian akbar, bedah buku, diskusi, dll. Semua model media tersebut memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang unik. Dan masing-masing harus dimanfaatkan sesuai dengan konteksnya masing-masing.

• Strategi Manajemen gerakan. Sering kita merasakan, sudah beraktifitas sangat banyak dan melelahkan tetapi hasilnya belum seberapa. Perubahan yang diinginkan seakan belum bergeser dari keadaan semula. Lalu apa yang sesungguhnya telah kita lakukan? Jika ilustrasi ini benar terjadi, ini menunjukkan bahwa berbagai aktifitas tersebut tidak efektif. Kenyataan yang kita hadapi sekarang adalah adanya tumpukan persoalan yang sangat besar dan kompleks sementara energi yang tersedia dari diri kita sangat terbatas. Jika energi kita yang sudah sedikit itu tidak digunakan secara baik dan sinergi bersama orang lain, dapat dipastikan hanya kesia-siaan yang kita lakukan.
Manajemen gerakan dakwah Muhammadiyah, idealnya adalah manajemen gerakan yang berorientasi pada mengefektifkan organisasi untuk menjadikan Muhammadiyah lincah dan cepat tangap terhadap berbagai perkembangan yang sangat cepat dan bermacam-macam. Hal itu dapat dimulai dengan membangun kesatuan visi dan orientasi gerakan serta mensinergikan ketiga pilar di atas (kaderisasi, pembiayaan dan media) untuk kemudian mengaktualkan gerakannya di seluruh sektor kehidupan masyarakat.

oleh: Ridwan Furqani


#Trending

 

Contact Us

Name

Email *

Message *